Tampilkan postingan dengan label Wisata Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Kuliner. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2012

Pindang Tulang Iga Palembang, Hits Banget!


Ini kali kedua kami datang ke Palembang Food, tapi yang pertama gagal total karena rumah makannya tutup. Kali ini dengan semangat kami menuju Palembang Food lagi dan berharap supaya tidak tutup lagi. Kami memang jadi penasaran akan rasa makanan khas Palembang yang ada di Jalan Suryo 50, Jakarta Selatan ini, karena menurut teman kami, Mbak Anggi, pindangnya enak banget. Pempeknya juga enak, ujarnya. Kali ini pun kami pergi ke situ bersama Mbak Anggi, dan dia terlihat begitu semangat sekali he-he…

Pindang tulang iga di Palembang Food.
Pindang tulang iga di Palembang Food.
Waktu kami datang sudah menunjukkan jam 8 malam, untung saja belum tutup. Memang sih sudah agak sepi pengunjung, hanya tinggal beberapa meja saja. Tempatnya tidak terlalu besar, tapi sangat bersih dan cukup nyaman. Pelayan-pelayannya pun sangat ramah menyambut dan melayani pesanan kami.
Kami pesan satu porsi pempek dan dua porsi Pindang Tulang Iga-nya, tadinya mau mencoba martabaknya juga, tapi takut perut ini tidak muat. Dan sembari menunggu makanan kami datang, kami melihat sekeliling interiornya. Wow… sudah ada beberapa artis yang datang ke tempat ini, pasti enak nih.

Yang pertama datang adalah pindangnya, wuih kelihatan mantap sekali. Kuahnya berwarna kuning kemerahan, slurrp…. rasanya sangat spicy sekali.  Yummyy… enak banget!  Gurih, lezat dan ada sedikit rasa pedasnya. Kuahnya saja sudah enak begini, bagaimana iganya. Memang tidak salah Mbak Anggi merekomendasikan tempat ini. Tulang iganya juga enak, tapi yang paling membuat saya terkesan adalah rasa kuahnya yang enak banget itu.
Nah pempeknya juga enak banget lho, komentar dari Mbak Anggi adalah “Hits banget” yang artinya top atau enak banget he-he…
Next time kami mau mencoba martabaknya ahhh…. O iya kami juga pesan pempeknya dibungkus untuk oleh-oleh di rumah, abis enak sih. kalau Anda sudah coba makan disini, pasti tidak akan menyesal, karena rasanya benar-benar hits.

Menikmati Olahan Resep Kuno di Bogor


Jika anda ingin tahu lebih detail tentang sejarah Bogor, langsung saja datang ke kawasan pecinan Bogor di Jalan Surya Kencana dan mampir ke Resto Kencana. Resto yang eye catching karena banyak lampion di bagian depannya ini, tak cuma sekadar resto jadul dengan aneka hidangan lezat mustajab tapi juga menyimpan koleksi foto-foto Bogor Tempoe Doeloe.

Mie ayam di resto Kencana, Bogor.
Mie ayam di resto Kencana, Bogor.
Foto-foto yang terpajang mulai dari kondisi Jalan Surya Kencana yang masih longgar dan kosong hingga suasana pasar tahun 1800-an dan wajah Istana Bogor dalam bentuk hitam putih. Masih ada pula aneka foto bunga-bunga cantik yang di potret sendiri oleh pemilik resto yang hobi banget traveling. Uniknya semua foto bunga itu adalah aneka macam bunga yang ada di Istana Bogor. Cantik-cantik loh.
Resto chinese food ini sendiri sudah berdiri sejak 30 tahun silam alias sejak tahun 1980. Mulai dari hanya berdagang mie ayam, bakso dan kweetiaw, kini sudah menjual aneka hidangan khas pecinan Bogor seperti pangsit pengantin, tauge goreng dan aneka hidangan menggiurkan lainnya. Yang menyenangkan semua makanan disini, mantab!

Hmm… meski chinese food namun mie dan bakso juga aneka hidangan khas Bogornya halal kok. Bahkan bisa dibilang sehat karena semua dibuat secara home made dengan resep kuno. Seperti ketika saya mencium aroma mie mentahnya, wow harum sekali. Aroma telur dan tepung yang sangat jelas dan lembut. Aroma ini sudah mengisyaratkan bahwa mie dibuat tanpa air abu, sehingga tidak menyebabkan perut berasa kembung. Bahkan bisa dibilang aman untuk mereka yang menderita mag. Oke kita kupas satu persatu makanannya ya.
Mie Ayam Kencana
Inilah cikal bakal berdirinya resto Kencana. Gerobak Mie ayam. Rasa Mienya sungguh luar biasa. Sampai sampai, meski saya memesan banyak sekali menu, saya tetap memaksa untuk menghabiskan mie ayamnya. Kenapa? Karena rasanya enak sekali. Terasa sayang untuk hanya sekadar mencicip. Hemat saya, kelezatan mie ayam ini justru karena kesederhanaan bumbu yang digunakan. Jadi lidah ini bawaannya penasaran terus.
Mienya yang berasa asin kecap bercampur sempurna dengan daging ayam kampung yang dibumbu manis. Nyaaam … Kedua yang bikin mie ini begitu memikat hati saya, tentu karena mienya yang home made. Tak hanya teksturnya lembut, mienya wangi alias tak beraroma bahan kimia tapi juga kenyal tepung dan telur yang menggoda. Apalagi mie yang dijual semua ada mie segar alias mie hari ini bahkan jika kondisi ramai seperti Sabtu dan Minggu, bisa dibilang mie jam ini.
Ya,…. karena pemilik resto tak pernah mau membuat mie dalam jumlah banyak sekaligus. Ia selalu membuat mie hanya untuk hari ini saja, jika ternyata kurang maka ia akan segera membuat lagi di ruang kerjanya di belakang resto. Hal ini supaya mie yang disajikan selalu dalam keadaan bagus.
Hmm… mienya ini semakin menggoda ketika diguyur dengan sedikit kuah yang tersaji. Kuahnya gurih sekali, ini karena dibuat dari kaldu ayam kampung asli yang dicampur dengan kaldu tulang sapi.
Aneka Bakso Kencana
Bakso disini juga diiolah dengan resep kuno yang masih mengandalkan kesegaran bahan dibanding limpahan bumbu. Jadi rasa yang akan kita dapat adalah kenikmatan semata. Seperti ketika saya mencicip si bakso ikan, kreees-nya dapat banget. Dari teksturnya yang kenyal, bakso ini dibuat dengan ikan ekor kuning yang memang banyak digunakan oleh orang Bangka untuk membuat bakso ikan yang gurih kenyal dan tidak amis. Sedangkan dari aroma dan rasa baso yang gurih, ini mengindikasikan bahwa bisa dikata komposisinya memang mayoritas ikan segar asli.
Untuk bakso dagingnya, ada yang halus dan ada yang urat. Sama dengan si Bakso Ikan, bakso daging juga berasa benar kesegaran daging sapinya. Jika biasanya bakso hanya berasa gurih dan aroma dagingnya sudah hilang karena tertutup aroma bahan pengawet, maka bakso disini terasa benar rasa sapinya. Bakso home made ini pun jelas dibuat tanpa bahan pengawet, karena sama dengan mie, bakso tidak dibuat secara masal yang kemudian disimpan sampai berbulan bulan.
Untuk kuahnya, pecinta asin mungkin kurang suka rasa kuahnya yang terkesan hambar. Namun inilah justru menurut saya kelebihan dari Resto Kencana. Kuah ini sama dengan kuah kaldu mie. Semata isinya hanyalah kaldu ayam kampung dan sapi murni yang hanya diberi tambahan daun bawang dan atau bawang goreng. Tak ada bumbu berlebih. Pemilik resto hanya akan menambah jika memang anda menginginkannya.
Nasi Tim Ayam Kencana
Nasi tim ini juga adalah hidangan awal yang ada di resto kencana setelah mie dan bakso juga kweetiaw (saya belum mencoba kweetiawnya). Waaah luar biasa, semua jempol saya tunjukkan untuk nasi tim ayam kencana. Dimakan nasinya saja sudah gurih enak sekali, apalagi ketika kita santap si nasi bersama ayam yang terkubur di dalam nasinya ini.
Tim ayam sendiri adalah hidangan yang dipenuhi aroma asin gurih. Ini karena sebelum di tim, nasi diberi campuran garam dan kecap asin terlebih dahulu. Kemudian nasi diletakkan menutup seluruh badan ayam dan di tim selama lebih dari 1 jam. Ayam kampung yang berada dibagian dalam nasi pun otomatis mengeluarkan minyak yang akhirnya membuat nasi tampak berminyak dan dampaknya adalah seporsi nasi yang teramat sangat gurih.
Pangsit Pengantin dan Tauge Goreng Kencana
Ini adalah dua masakan khas Bogor yang saya coba disini. Jiaaaa,… luar biasa. Sudah kenyang tapi saya nggak bisa berhenti makan. Sampai kata teman saya, “Mati dah, diet gagal”. Pangsit pengantinnya ini benar-benar sedap dan segar. Hidangan yang sejak ratusan tahun lalu digunakan sebagai sajian kepada pengantin di kawasan pecinan Bogor ini diolah hanya dengan bahan bahan bermutu dan teknik memasak yang tepat.
Semisal udangnya. Udangnya ini hanya direbus sekian detik saja sehingga ketika dikunyah ia masih berasa kres gurih yang manis alami udang. Lalu telurnya yang berisi cincangan daging ayam, juga meski sudah terendam air kaldu masih saja bertekstur padat ketika dikunyah. Sedangkan kol dan bihunnya juga dalam komposisi yang pas untuk dimakan bersama pangit yang telah lembek. Hmm…
Begitu juga tauge gorengnya. Usai menikmati tauge goreng disini, entah mengapa tauge-tauge goreng yang pernah saya makan sebelumnya jadi terlupakan kelezatannya. Karena Tauge Goreng yang ada disini benar-benar memiliki kesegaran yang jauh berbeda dari tauge goreng yang sebelumnya saya pernah coba.
Mengandalkan tomat pilihan yang tak terlalu asam dan manis, tomat ini tampil sangat berlimpah. Ya,… bumbu yang sama namun dengan komposisi dan kualitas bahan yang berbeda ternyata dapat memberikan jurang rasa yang begitu berbeda. This is very recomended buat yang benar-benar ingin mencoba rasa tauge goreng.
Aneka Minuman
Aneka minuman disini juga sangat mantab terutama es lidah buayanya. Seger bukan main. Lidah buaya seolah jeruk yang ketika digigit akan menimbulkan sensasi kres berair yang dahsyat. Selain es lidah buaya, minuman lain yang patut di coba adalah jus kelapa muda. Slruup…

Nikmatnya Gado-gado Taman Sari


Hari Sabtu, saya bangun pagi-pagi, hal yang jarang sekali saya lakukan, karena biasanya saya bangun siang kalau weekend. Tapi kali ini saya sengaja bangun pagi karena ingin mencoba gado-gado Taman Sari. Yogie, teman saya mempromosikan tempat ini dengan semangat, katanya gado-gado dan ayam gorengnya enak sekali. Bahkan menurut dia, ini gado-gado terenak yang pernah dia coba. Saya jadi penasaran, makanya  hari ini saya sengaja meluncur ke Jalan Taman Sari untuk mencari gado-gado ini.

gad
Gado-gado Taman Sari.
Gado-gado Taman Sari.
Setelah sampai di jalan Taman Sari Raya, saya langsung bertanya kepada tukang parkir disitu supaya tidak nyasar. Dan ternyata gado-gado ini tidak ada papan namanya.Hanya sebuah rumah makan sederhana bercat biru muda, dan didepannya ada seorang penjual cingcau. Lokasi tepatnya berada di Jalan Taman Sari Raya, Jakarta Barat, dekat dengan rel kereta api.
Sewaktu baru datang, saya langsung tergiur dengan cingcau yang ada di teras depan. Saya pesan satu deh he-he… lumayan untuk ganjal perut sembari menunggu gado-gadonya datang. Begitu saya masuk, saya serasa kembali masa kecil saya. Sebuah rumah kuno dimana ada pintu kaca dengan gerendel kunonya, mirip banget dengan
rumah nenek saya. Tempatnya sangat bersih dan rapi. Si Ibu pemiliknya yang tidak mau disebut namanya ini juga tampak ramah melayani pelanggan-pelanggannya, mereka memulai usaha gado-gado ini sejak tahun 1960. Sudah lama banget ya, pantas saja tempat ini punya banyak penggemar setia. Dan di pojokan juga tampak sekelompok kakek-kakek sedang menikmati gado-gadonya.
Di tempat pembuatan gado-gadonya ada dua buah cobek besar yang berisi bumbu gado-gadonya. Dan sayur-sayurnya tertata rapi di sebuah lemari kaca. Lontong disini juga berukuran kecil-kecil, kita juga bisa memilih nasi sebagai ganti nasinya. Kami pesan dua porsi gado-gado lontong dan ayam goreng.
Cingcaunya enak lho, rasa manisnya didapat dari gula cair dan tidak pakai santan. Rasanya sangat fresh he-he… Dan tenyata tidak perlu menunggu lama untuk gado-gadonya. O iya kita juga bisa minta bumbunya supaya pedas atau sedang. Gado-gadonya tampak sangat menggiurkan lho, berisi telor, jagung manis, selada, kacang panjang, timun, tauge, tempe goreng, kangkung, kentang, dan tahu goreng yang kemudian dibubuhi bumbu kacang yang legit dan lezat. Kemudian sebagai pelengkapnya diberi emping dan kerupuk udang. Wah… benar-benar komplit, saya suka sekali dengan gado-gadonya, enak, segar dan bumbu kacangnya lezat sekali. Mantap deh.
Sekarang kita coba ayam gorengnya ya. Ayam goreng bumbu kuning yang digoreng agak kering kemudian disajikan dengan sambal kacang, bukan sambal terasi pada umumnya. Daging ayamnya enak banget, empuk dan rasa bumbunya meresap sampai kedalam. Harus anda coba nih ayam gorengnya, enak banget soalnya. Asinnya juga pas.
Pantas saja Yogie bilang ini gado-gado terenak, karena memang ini enak banget. Begitu pula dengan ayam gorengnya. Mantap deh rasanya. ( Sumber : Kompas.com )

Nasi Campur Bali dan Rujak Pindang


Ingin makan makanan Bali tidak perlu jauh-jauh ke Bali, karena di kota Jakarta pun ada makanan khas Bali yang enak, yaitu di Restaurant Ajengan. Tempatnya unik, penuh dengan interior khas Bali. Dari patung sampai tatakan gelas pun bernuansa Bali. Plus diiringi alunan musik Bali….he-he serasa lagi makan di Bali. Tempatnya bersih, tenang dan pelayannya pun ramah-ramah.

Makanan khas Bali di Restaurant Ajengan. YUDI/DOYANMAKAN.COM Sate lilit di Restoran Ajengan.
Makanan khas Bali di Restaurant Ajengan. Sate lilit di Restoran Ajengan.
Begitu melihat menu, langsung kami pesan makanan khas Bali seperti Nasi Campur Bali, Sambal Matah, Sate Lilit Ayam, Rujak Pindang Kuah, dan Bebek Goreng. Kami semua sangat kelelahan dan kelaparan, karena tim Doyan Makan dan teman-teman habis rafting di Citarik – Sukabumi. Dan untuk makan malamnya kami ingin makan yang agak berat, yaitu makan di Ajengan ini.
Menu pertama yang datang adalah Nasi Campur Bali, isinya ada nasi, sate lilit ayam, ayam sisit, jukut (sayur), dan sambal matah. Rasanya nikmat sekali! Semua lauk di nasi campur ini enak banget. Sambalnya pun pedas banget. Kemudian ada lagi Bebek Goreng, yummy…enak lho…Sate Lilitnya pun enak. Nah ini yang saya tunggu-tungu, Rujak Pindang Kuah, karena saya belum pernah mencobanya sama sekali.

Begitu dicicipi…mmm…manis, asem, seger…isinya buah-buahan seperti mangga dan kedondong yang dibumbu rujak kemudian dicampur dengan kaldu ikan. Overall kami puas makan disini, rasanya enak dan harganya pun wajar lah untuk rasa yang enak ini. Bahkan teman kami, Purnie dan Komang yang asli dari Bali pun berkomentar sama pula

Bebek Goreng Sambal Ijo, Mantap!


Saat jam makan siang, saya diajak teman-teman makan bareng di daerah Muardi, Grogol. Di daerah ini memang banyak sekali penjual makanan. Daerah Muardi dan sekitarnya sudah cukup terkenal di kalangan kuliner, cukup beragam juga jenis makanannya.

Bebek Goreng Sambal Ijo di Pondok Nasi Daun, Grogol, Jakbar.
Tapi kali ini saya di ajak mencicipi Bebek Goreng Sambal Ijo. Saya memang belum pernah makan disini. Hmmm… padahal awalnya sih kurang tertarik, tapi karena atas rekomendasi teman-teman katanya mesti cobain bebek goreng sambel ijonya, jadi apa salahnya dicoba yuuk. Nama tempatnya Pondok Nasi Daun di Jalan Muardi, Grogol, Jakarta Barat, tempatnya mudah dicari kok. Dan sebenarnya menu bebek goreng sambel ijonya bukan menu utama, makanan lainnya model prasmanan (pilih menu) dan jenis makanannya lebih ke rames.
Memang kalau jam makan siang begini rata-rata tempat makan sepanjang jalan ini ramai sekali, sampai-sampai kadang cari parkir saja susah. Kebanyakan yang sedang cari makan siang dari pekerja kantoran yang ada di Grogol dan sekitarnya. Nah di Pondok Nasi Daun, saya coba pesan yang tadi direkomendasikan teman saya, yaitu Bebek Goreng Sambal Ijo, pesanan pun tidak lama datang. Wow cepat juga ya, langsung saya cicipi deh, hmmm… ternyata rasanya enak, daging bebeknya empuk, garing dan yang jelas sambal ijonya memang maanntabb, dan pedasnya memang membuat lebih nikmat. Menurut teman-teman saya, makanan disini memang enak. Tapi yang spesialnya bebek goreng sambel ijonya.

Kalau Anda penggemar Bebek Goreng, silahkan coba Bebek Goreng di Pondok Nasi Daun ini, Anda pasti sependapat dengan saya soal rasanya, tapi tentunya Anda juga pasti punya rekomendasi penjual bebek goreng lainnya kan? Silahkan berikan rekomendasinya ya.

Bebek Cabai Hijau ala Bebek Echo


Akhirnya, kesampaian juga mampir di rumah makan bermenu bebek di daerah Tanjung Duren. Namanya Bebek Goreng Echo Asli Kartasuro.

bebek cabai hijau
bebek cabai hijau
Lokasi tepatnya di Jalan Tanjung Duren Raya, jalan yang mengarah pasar kopro dekat pertigaan (sebelum Sate Wong Tegal). Bebek Echo posisinya sebelah kiri jalan. Dari beberapa hari yang lalu kami sebenarnya mau mampir ke sini, karena setiap kali lewat, tempat ini selalu ramai. Bila Anda membawa mobil memang kadang agak sulit untuk parkir.
Tempatnya memang tidak terlalu besar, dengan hiasan di dinding yang cukup ramai. Mulai dari foto-foto menu makanan yang ada di Bebek Echo ini, ada juga beberapa dummymenu bebek yang menempel di beberapa dinding. Juga wastafel yang digunakan untuk cuci tangan dihias dengan karakter bebek.
Bebek Echo sudah mulai berjualan dari tahun 2007 dan menurut informasi yang kami dapat, sebenarnya pemilik bebek echo ini asli dari kota Surabaya. Sedangkan resep menu bebek ini didapatkan dari salah seorang menantu yang pernah tinggal di Kota Solo.

Nah kita langsung menanyakan kepada pelayan untuk menu favorit yang ada di Bebek Echo ini. Sebenarnya yang jadi favorit di sini ada beberapa menu. Nah kita pesan dua menu yang berbeda, yaitu bebek cabai hijau dan bebek kremes.
Kami pesan yang bagian dada karena kami lebih suka bagian dada. Sebenarnya ingin coba Bebek Kriyuk (tanpa tulang) tetapi ternyata bukan diambil dari bagian dada jadi kami tidak jadi pesan.
Bebek kremes ini hampir mirip-mirip seperti rumah makan bermenu bebek lainnya. Daging bebek yang di atasnya diberi taburan kremes yang kriuk-kriuk. Potongan daging bebek di sini tidak terlalu besar. Dagingnya lumayan empuk.
Sambalnya sudah disiapkan 3 jenis di 3 tempat berbeda. Warna merah berarti pedas, warna jingga berarti sedang, dan yang tempat yang berwarna hijau adalah sambal terasi. Karena suka pedas, maka kami pilih sambal yang di tempat warna merah. Pedasnya memang mantap!
Nah, untuk Bebek Cabai Hijau, menurut kami lebih mantap. Bumbunya lebih meresap lalu taburan sambal hijau di atas bebeknya membuat lebih nikmat.  Bebeknya memang cukup gurih. Sedangkan untuk sambal hijau tidak terlalu pedas, jadi kami tambah sambal pedasnya, supaya makan jadi tambah nikmat.

Nikmatnya Mi Spesial dan Ayam Lapis Udang


Kali ini wisata kuliner kami mengarah ke daerah Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Kami berhenti di Bakmi Toko Tiga.

ayam lapis udang
ayam lapis udang
Nama Toko Tiga ini ternyata diambil dari Jalan Toko Tiga, tempat warung mi tersebut pertama berada. Akhirnya nama jalan tersebut menjadi nama warung mi ini.
Sekarang Bakmi Toko Tiga sudah ada di 3 tempat. Warung pertama di  Jalan Toko Tiga 56A Jakarta Pusat, Jl. KH. Wahid Hasyim 63 A, dan di TIS Square Jl. Letejen MT. Haryono 8 Jakarta.
Warung yang berada di Jl. KH Wahid Haysim ini sangat besar. Parkirannya pun sangat luas sehingga nyaman untuk mengajak keluarga makan bersama di sini.
Di sini juga tidak hanya ada mi saja, tetapi banyak juga menu-menu lainnya seperti Ayam Lapis Udang, Gurame Asam Manis, Ayam Olive, dan sebagainya. Jadi pasti banyak pilihan untuk Anda sekeluarga.

Tetapi datang ke sini rasanya belum lengkap kalau tidak menyantap mi. Kami pun pesan Mie Special dan Ifu Mi. Kami pun tergoda untuk mencoba Ayam Lapis Udang yang tampak sangat menggoda itu.
Ifu Mi saya sudah datang, mi yang digoreng sampai garing kemudian disiram dengan kuah yang agak kental. Kuah berisi irisan ayam, udang, sayur sawi, kembang kol, daun bawang, dan potongan jamur yang besar-besar. Mantap sekali jamurnya.
Ifu Mi ini memang enaknya disantap dengan segera. Supaya mi tidakkeburu menjadi lembek. Karena memang lebih enak disantap jika masik kriuk-kriuk. Yummy banget.
Kuah kentalnya memang lezat. Potongan jamurnya itu lho yang royal banget, besar-besar pula jamurnya. Saking enaknya saya menghabiskan  satu porsi Ifu Mi ini sendirian.
Mie Special juga enak, tekstur mi sangat lembut, dan berukuran kecil-kecil. Disajikan dengan irisan daging ayam, jamur, sawi, pangsit basah, dan baso sapi.
Ada kuahnya juga yang disajikan terpisah. Enaknya memang diberi sambal terlebih dahulu supaya lebih mantap.
Jangan ketinggalan pangsit gorengnya, seporsi berisi 8 buah. Berhubung kami sedang berdua saja, kami hanya pesan setengah porsi, seharga Rp. 10.000. Sedangkan Mie Special tadi harganya Rp. 20.000 dan Ifu Mi Rp. 27.273.
Ada satu menu lagi yang harus Anda coba yaitu Ayam Lapis Udang. Menu ini enak sekali, daging ayam dilapisi dengan daging udang cincang kemudian digoreng tepung. Di atasnya diberi siraman saus.
Lembut di dalam dan renyah di luarnya. Rasa daging ayam yang lembut bercampur dengan gurihnya udang juga membuat menu satu ini terasa nikmat banget. Saus siramnya terasa sedikit asin dan gurih. Anak-anak pasti suka dengan menu ini.
Ingin santap mi baik sendirian ataupun dengan keluarga, datang saja ke Bakmi Toko Tiga. Selain halal, menunya sangat beragam dan lezat.

Soto Kecik Sokaraja, Tempat Bernostalgia


Berburu kuliner di daerah sekitar Purwokerto, kali ini kami pergi ke kota yang terkenal dengan makanan getuknya. Yup, ke Sokaraja. Di Sokaraja tentunya ada beberapa makanan yang perlu dicoba. Beberapa waktu yang lalu Doyan Makansudah mengulas Soto Sutri. Nah, kali ini, kami mampir ke Soto Kecik.

Soto Kecik
Soto Kecik
Anda sudah pernah dengar Soto Kecik? Kalau melewati kota getuk ini, di jalan utamanya yang berjejer toko penjual oleh-oleh khas Sokaraja, maka kalau diperhatikan, maka Anda akan melihat satu rumah makan penjual soto khas Sokaraja ini. Kalau dari arah Purwokerto, maka Soto Kecik ini ada di sebelah kanan jalan.
Kalau mau mampir, Anda memang harus jeli dan pelan-pelan membawa kendaraan karena hampir semua toko di sepanjang jalan ini adalah penjual getuk he-he-he…. Untuk itu, carilah plang berwana biru.
Tempat Soto Kecik ini sudah berjualan cukup lama. Waktu masih tinggal di Purwokerto, kami masih suka makan soto ini. Dulu kami sering melewati Sokaraja karena waktu kecil kami berlatih renang di Kota Purbalingga. Jadi, sepulang latihan renang, kami sering mampir. Makanya kalau sedang ke daerah Purwokerto, pasti kami bernostalgia kembali.

Soto Kecik menyediakan soto khas Sokaraja, dengan kuah bening dan berisi taoge, daun bawang, potongan daging, taburan kerupuk warna-warni, dan taburan bawang goreng.
Jika suka jeroan, maka Anda juga bisa memilihnya, lho. Berhubung kami tidak suka jeroan, jadi pesan yang daging saja. Dagingnya empuk, kuahnya sedap banget. Sambalnya dengan sambal kacang yang cukup pedas… waaah enak pokoknya.
Di sini juga biasa menyajikan tempe mendoan yang masih panas… Wah, kami makan dengan dicampur tempe mendoan yang kami potong-potong. Jadi tambah nikmat… Tidak ketinggalan, camilan klanting jadi teman makan Soto Kecik.
Berwisata kuliner di daerah selalu menyenangkan. Kuliner Indonesia memang sangat unik, sangat beraneka ragam.

Tahu Petis di Atas Tembikar


Jika Anda sedang berada di Kota Malang, Jawa Timur, cobalah berwisata kuliner di Restoran Taman Indie. Letaknya di Jalan Lawang Sewu, Kota Araya, Malang. Restoran ini menawarkan suasana taman yang hijau dan konsep duduk di bale-bale yang yang sejuk.

Tahu petis yang disajikan di atas tembikar tanah
Tahu petis yang disajikan di atas tembikar tanah
Sesuai dengan namanya restoran ini memang ibarat taman. Restoran dikelilingi pohon-pohon yang rindang dan hamparan rumput yang menghijau. Bale-bale menghadap Sungai Bango yang mengalir dan lapangan golf.
Interior restoran bernuansa tradisional dengan banyak bale-bale dari kayu. Bahkan tempat cuci tangannnya juga dari gentong tanah. Bale-bale yang menghadap ke sawah sangat pas buat tempat makan siang.
Lokasi restorannya sangat strategis di dalam Kota Malang dan masuk dari komplek perumahan Kota Araya. Di dekat restoran ini ada klub house kolam renang .
Menu Eropa, Cina, Jepang, Indonesia, semua ada di sini. Menu Indonesia diberi nama unik antara lain Gado-gado Kayu Tangan, Ikan Gurame Mulet Kering, Cumi Gapit, dan Nasi Timbel Mangkunegaran.

Untuk makanan pembuka ada sup khas masakan Jawa Timur yaitu sup kikil yang disajikan dengan lontong dan kikil sapi. Bagi Anda pecinta tahu petis bisa mencoba tahu petis yang disajikan unik di atas tembikar tanah liat dan dialasi daun pisang.
Bumbu petisnya ditaruh di cobek tanah liat kecil. Bentuk tahu gorengnya juga panjang-panjang sebesar ibu jari bukannya seperti tahu kebanyakan yang berbentuk kotak.
Untuk makanan utama saya mencoba Sop Buntut Taman Indie. Rasanya cukup lezat dan buntutnya cukup empuk. Hidangan penutup bermacam-macam berupa es campur yang juga diberi nama unik antara lain Es Daluman, Es Gunung Kelud, dan Es Gandul Tali Merang.

Ikan Pesmol dan Nasi Liwet, Mantap!


Awal Tahun baru 2012 kami mencari makan malam di daerah sekitar Pecenongan. Seperti kita ketahui, Pecenongan sudah terkenal sebagai tempat wisata kuliner malam. Ya, karena sebagian besar tempat makan disini buka dari sore hingga dini hari.

Ikan Pesmol
Ikan Pesmol
Sepanjang jalan menuju Pecenongan, banyak sekali rumah makan yang masih tutup dalam rangka libur lebaran. Tapi begitu memasuki area Pecenongan, wah tenda-tenda penjual makanan masih tetap berderet di sepanjang jalan ini. Seafood, Es, Nasi Uduk, Martabak, Sate… lengkap semua hadir disini. Sampai akhirnya kami berbelok ke Jalan Batu Tulis Raya, melihat disini pun ramai sekali dengan mobil-mobil. Tekko buka, dan beberapa chinese resto pun masih beroperasi. Dan akhirnya kami pun tergiur untuk mencoba “Ikan Bakar Cianjur“. Dulu sekali saya pernah makan nasi liwetnya, dan sekarang saya ingin menyantapnya lagi. Hmm kangen juga dengan aroma nasi liwet ala Cianjur ini.

Parkirannya penuh banget, dan begitu masuk kami pun kaget … karena kami berada di-waiting list ke-8. Ramai banget di dalam, padahal resto Ikan Bakar Cianjur di Batu Tulis ini sangat besar, semua meja terisi. Ya sudahlah, kami harus rela mengantre karena di tempat lain juga pasti antre.
Menunggu sekitar 10 menit akhirnya antrean kita sampai juga he-he. Eiiiits itu baru dapat tempat duduk, menu pesanan kita masih menunggu sekitar 30 menit lagi ha-ha…ya memang harus maklum, karena suasana libur lebaran hampir di semua tempat makan memang ramai banget.
Kami pesan 3 menu, ikan pesmol nila, ayam goreng dan nasi liwet. Sebenarnya kami lebih suka ikan gurame, tapi mereka kehabisan stok ikan gurame yang tersisa hanya ikan nila saja. Nasi liwet-nya menjadi menu favorit di Ikan Bakar Cianjur. Penyajiannya pun cukup unik, karena ditempatkan di sebuah kuali. Satu porsi nasi liwetnya bisa untuk 4-5 orang.
Saya cobain ayam gorengnya terlebih dahulu. Empuk banget daging ayamnya, dan rasa gurihnya pun sangat enak. Asinnya pas banget. Saya sih suka banget dengan ayam gorengnya, apalagi setelah dicocol dengan sambalnya yang pedas dan terasa segar itu. Tambah mantap lagi rasanya.
Ikan Nila Pesmol-nya pun juara banget, rasanya mantap tidak nanggung. Bumbu rempahnya yang menutupi seluruh ikannya membuat daging ikannya terasa lebih enak, karena bumbunya jadi meresap ke dalam daging ikan. Ada rasa manis dan segarnya, kemudian dalam bumbunya pun ada beberapa potong cabai rawit, yang bisa kita hancurkan kalau kita ingin lebih terasa pedas. Bumbunya benar-benar enak, lezat banget.
Nah nasi liwetnya sangat cocok untuk disantap bersama dengan ayam goreng dan ikan nila pesmol tadi. Jadi nasi liwet ala Cianjur ini tidak mengandung santan seperti nasi Liwet Solo, nasi liwet Cianjur hanya dimasak dengan daun sereh, daun salam, dan garam. Kemudian dilengkapi dengan teri medan. Kalau saya sih mencampurkan teri medan tadi ke dalam kualinya, kemudian saya aduk-aduk dengan nasi liwetnya yang masih panas mengepul. Wahhh harumnya …. Benar-benar membuat saya kalap makan malam. Nasi Liwet + Ikan Pesmol = Mantap bener he-he…
Sewaktu kami selesai makan, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi antrean masih terus berlanjut. Salut deh sama Ikan Bakar Cianjur. Next time kami mampir lagi untuk mencoba Ikan Gurame Goreng-nya.