Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2012

Wonderland ke Menara Penampar Muka


Di musim gugur, pesona Taiwan tak pernah padam. Keajaiban alam di Taman Geologi Yehliu, tamparan angin di Menara 101, hingga pesona batu giok mampu memikat wisatawan sepanjang tahun. Pada akhir November lalu, Kompas berkesempatan berkeliling di sejumlah tempat wisata di negeri ini. Inilah yang menarik dari Taiwan, meski musim angin, tempat wisata terus dibanjiri pengunjung.

Kebun jamur di Taman Geologi Yehliu, Taiwan, bak dunia Wonderland milik kartun anak-anak Alice.
Kebun jamur di Taman Geologi Yehliu, Taiwan, bak dunia Wonderland milik kartun anak-anak Alice.
Yehliu Geology Park yang terletak di Wanly, sekitar 1 jam perjalanan dari kota Taipei, adalah salah satu obyek wisata yang ramai dikunjungi. Di tempat ini, pengunjung seolah menjadi tokoh kartun Alice yang tersesat di Wonderland, negeri asing yang unik dan penuh imajinasi.
Memasuki jalan setapak pertama di taman geologi ini, pengunjung akan menemukan bentangan batu serupa kebun jamur berukuran raksasa. Di tempat ini, pengunjung bak liliput yang dikepung puluhan batu raksasa berbentuk jamur berbatang oranye dan berkepala karang kehitaman. Batu-batu itu tersebar di tepi pantai utara Taiwan yang berbatasan dengan Jepang.
Jika Alice bertemu dengan kelinci di Wonderland, di Yehliu Park Anda bisa bertemu dengan burung laut, gajah, dan gorila raksasa. Mereka berada di dekat ”kebun jahe” yang buah ”jahenya” berukuran sebesar meja bahkan mobil.

Anda juga bisa mendapati ”es krim coklat” raksasa dengan gelas leher angsa berwarna putih kekuningan. Ada pula batu berbentuk sepatu peri sebesar kapal nelayan, yang seolah ditinggal tergesa-gesa oleh sang peri di tepi pantai Yehliu. Di sini, sang ratu dalam cerita Alice pun eksis, bahkan menjadi ikon dari geopark itu. Sebuah batu berwarna tembaga setinggi 2 meter membentuk sebuah pahatan alam kepala ratu.
Berbeda dengan ratu hati di dunia Alice yang mengambil simbol kartu remi, ratu di Yehliu lebih mirip ratu Mesir yang ramping. Sang ratu berleher jenjang, dengan lekukan dahi, mata dan bibir, serta bersanggul tinggi. Warna oranye cerah pun membuat sosok sang ratu kian menonjol di antara bebatuan yang lain. Namun, batu siluet perempuan bermahkota ini hanya bisa dinikmati dari sisi kanan saja. Karena itu, dalam berbagai bentuk ikon Yehliu Geopark, sang ratu selalu menghadap ke kanan.
Selain patung ratu, masih banyak berbagai bentuk batuan lain yang bisa menggugah imajinasi pikiran Anda. Ada gugusan batuan bulat dengan batu kecil di tengahnya yang dinamai batu lilin bernyala api. Batu itu selintas mirip deretan lilin yang hampir habis batangnya, tapi bagi Anda yang pernah pergi ke Borobudur, gugusan batu tersebut mirip stupa candi di Magelang, Jawa Tengah, itu.
Mungkin juga Anda lebih mengenali kebun jamur di lanskap depan sebagai kebun brokoli karena bentuk kepalanya yang keriting, hanya warnanya saja yang berbeda. Di taman geologi Yehliu yang membentuk tanjung sepanjang 1.700 meter itu pikiran Anda memang diajak berimajinasi.
Batu berkalsium
Bentuk sang ratu, es krim, kebun jahe, gajah, gorila, hingga jamur-jamur raksasa ini sejatinya adalah batu-batu berkalsium dan karang, yang dipahat alam dengan gerusan erosi ratusan tahun. Paparan matahari, angin, hujan, dan musim angin tenggara yang kuat ikut memengaruhi bentuk bebatuan itu.
Dalam buku saku wisata yang diterbitkan oleh North Coast and Guanyinshan National Scenic Area Administration disebutkan bahwa bentuk dari bebatuan itu akan terus berubah, terpengaruh iklim dan alam. Kebun jamur dari batu yang terbentang di taman wisata itu misalnya, terus berubah bentuk mengikuti proses erosi. Bentuk kepala jamur dari terumbu karang mungkin masih terjaga dalam usia yang lebih lama, tapi leher ataupun batang sudah menunjukkan perubahan sedikit demi sedikit.
Awalnya, batu yang membentuk pahatan jamur muncul tanpa leher. Lama kelamaan mulai mengecil membentuk leher karena sebagian batu penyangga terumbu karang tererosi. Kemudian hari leher jamur itu akan kian mengecil dan hilang. Proses itu berlaku untuk semua bentuk batu dan beberapa batu sudah hampir memasuki fase leher yang mengecil, termasuk batu Ratu yang menjadi maskot geopark itu. Menyadari itu, pengelola
Yehliu pun membuat duplikatnya dari batu yang serupa. Duplikat kepala ratu ini ditempatkan di tengah taman yang asri di bagian depan Geopark Yehliu.
Tamparan angin
Geopark Yehliu bukan satu-satunya tempat menarik di Taiwan di musim gugur. Negeri pulau ini juga mempunyai gedung tertinggi kedua di dunia, yakni Menara 101. Menara ini sempat dideklarasikan sebagai menara tertinggi di dunia tahun 2004, sebelum bangunan Burj Khalifa di Dubai berdiri.
Gedung yang berada di pusat kota Taipei itu berketinggian 508 meter. Nama 101 diambil dari jumlah lantai yang ada, tapi lantai tertinggi yang bisa dikunjungi wisatawan adalah lantai ke-91 yang merupakan tempat observatorium luar ruang. ”Jangan lupa membawa jaket tebal karena di lantai 91 Anda akan mendapatkan tamparan angin yang luar biasa kencang, terutama di musim gugur,” gurau Jalu, pemandu wisata yang menyertai kami.
Di tempat ini, pemandangan seluruh penjuru Taipei akan terlihat. Gedung memorial Chiang Kai Shek, tokoh politik Taiwan ternama, akan mudah dilihat di sisi barat gedung. Di bagian ini pula gedung-gedung tinggi yang menjejali Taipei terlihat hanya seukuran korek api. Begitu pula bagian utara, jalan layang yang membelah pusat kota Taipei terlihat mengular panjang.
Lain dengan bagian barat dan utara, pemandangan bagian timur dan selatan dipenuhi dengan hamparan hutan yang menghijau. Deretan pegunungan, seperti Su-shou Nan-Kang dan Jing mei-xian ji, terlihat memagari Taipei.
Jika tak ingin masuk angin, cukuplah menyaksikan pemandangan lanskap Taipei di ruang observatorium lantai ke-89. Meski lebih rendah dua lantai, di observatorium dalam ruang tak kalah nyaman. Setidaknya di tempat itu pengunjung bisa menikmati pemandangan berlama-lama tanpa takut masuk angin.
Taipei 101 juga merupakan tempat butik perhiasan tertinggi di dunia. Lantai 88 yang disebut sebagai treasury sky merupakan tempat penjualan perhiasan dari giok.  Batu permata ini adalah salah satu batuan khas yang banyak didapati di negeri ini. Erik, salah satu pelajar Taiwan dari Indonesia yang juga menjadi pemandu wisata paruh waktu, mengatakan, Taiwan sangat kaya akan tambang giok.
Selain di butik 101, giok juga banyak dijual di toko suvenir di tempat wisata, hotel, mal, bahkan kaki lima. Di tempat-tempat itu, perhiasan giok berwarna hijau yang merupakan batuan dari senyawa kimia ini bisa didapatkan mulai harga 300 dollar Taiwan atau Rp 180.000 dengan kurs Rp 300 per 1 dollar Taiwan. Harga yang tergolong murah untuk oleh-oleh berkelas dari negeri Wonderland. (Kompas.com)

Eksotisme Bahari Halmahera Utara


Nia Ino O Halmahera Koremie Mabereraka! Bahasa daerah Tobelo menyambut kedatangan para wisatawan pemburu pantai. Ya, kalimat tersebut berarti “Selamat datang di Halmahera Utara”. Sepanjang sisi utara dan timur Halmahera Utara merupakan pesisir. Menurut data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Halmahera Utara tahun 2007, terdapat 96 pulau termasuk gugusan pulau-pulau kecil.

Pulau Kakara, primadona di Halmahera Utara untuk berenang, snorkeling atau diving.
Pulau Kakara, primadona di Halmahera Utara untuk berenang, snorkeling atau diving.
Sebagian besar pulau-pulau ini memiliki pantai yang masih perawan. Di sinilah keeksotisan pantai Halmahera Utara. Pantai berpasir putih dengan panorama yang masih sangat alami. Pantai-pantai ini masih sangat sepi. Kadang saat Anda berkunjung bisa jadi Anda satu-satunya orang di pantai itu. Beberapa pulau pun kondisi tenang nan sepi terasa. Saat mampir, Anda akan merasa berada di pulau pribadi. Beberapa lokasi perairan cocok untuk berenang, diving, surfing, hingga memancing. Ada beberapa lokasi bahari yang menjadi andalan Halmahera Utara.
Pulau Kakara Pulau ini menjadi primadona Halmahera Utara. Selain itu, di Pulau Kakara terdapat diving centre. Karena itu di pulau ini cocok menjadi titik untuk diving. Jarak menuju Pulau Kakara dari kota Tobelo hanya 20 menit menggunakan speedboat.Panorama di kawasan Pulau Kakara begitu lengkap. Tidak hanya laut dan pasir putih, tetapi Anda juga bisa melihat Gunung Dukono yang aktif dan sering mengeluarkan asap serta Gunung Mamuya. Sehingga saat berenang Anda serasa dikelilingi pasir putih dan gunung.

Taman Laut Tagalaya Di Tagalaya terdapat beraneka ragam biota laut dan merupakan taman laut andalan Halmahera Utara. Taman Laut Tagalaya ini akan dikembangkan seperti Bunaken. Jaraknya hanya 15 menit dari Tobelo menggunakan taksi kapal.
Pulau Pawole Pulau ini juga salah satu andalan wisata bahari Halmahera Utara. Dengan panorama bawah laut yang cantik dan arus yang tenang. Lokasi ini cocok untuk Anda penggemar olahraga menyelam.
Beberapa pulau lain yang bisa Anda kunjungi adalah Pulau Kumo dan Pulau Posi-Posi. Pulau Kumo jaraknya paling dekat dengan Kota Tobelo. Anda bahkan bisa melihat kota Tobelo dari Pulau Kumo. Jika Anda penggemar mengarungi ombak, Anda bisa mengunjungi Pulau Posi-Posi. Di bulan-bulan tertentu, ombak di Pulau Posi-Posi cukup tinggi sehingga cocok untuk berselancar.
Pantai dengan panorama memesona juga bisa Anda temukan di Pantai Kupa-Kupa dan Pantai Luari. Pantai Kupa-Kupa berada kawasan Tobelo Selatan. Ciri khas pantai Kupa-Kupa adalah seolah terletak di dalam teluk dan banyak pohon rindang tumbuh di pesisir. Sementara Pantai Luari langsung berhadapan dengan Samudera Pasifik.
Eksotisme pasir hitam bisa Anda jumpai di Pantai Pitu. Karena perairan di Pantai Pitu dangkal, maka kawasan ini cocok untuk tempat anak-anak berenang. Sementara jika Anda pemburu wisata sejarah bawah laut, temukan keunikan bangkai kapal Tosimaru di Pantai Sosol. Anda bisa melihat kapal barang dari masa perang dunia II di di tengah perairan pantai Sosol.
Firman, seorang penyelam yang biasa menyelam di kawasan Halmahera Utara sekaligus bekerja di pemerintah daerah setempat mengatakan beberapa titik yang cocok sebagai lokasi diving. Lokasi tersebut berada di Pulau Lima, Pulau Tupu-Tupu, Pulau Pawole, Pulau Kakara Besar, dan Volcano Underwater di Galela.
Sementara itu di bawah laut perairan Pulau Bobale terdapat berbagai peninggalan Perang Dunia II. Lokasi ini cocok untuk Anda penggemar diving sekaligus wisata sejarah. Perairan Halmahera Utara kaya akan ikan. Anda bisa menangkap ikan kerapu besar dengan panjang mencapai satu meter lebih. Salah satu titik yang cocok untuk memancing adalah Pulau Doi di Kecamatan Loloda Utara. Di lokasi ini pernah diadakan lomba memancing pada tahun 2008 silam.
Jika Anda ingin berkunjung ke pantai yang lebih hidup dan ramai, Anda bisa datang ke Pantai Tanjung Pilawang ataupun ke Tempat Penampungan Ikan. Di sini Anda dapat melihat kehidupan masyarakat setempat. Seperti di Pantai Tanjung Pilawang, Anda bisa menyaksikan budidaya rumput laut. Sementara di bagian lain dari pantai tersebut, masyarakat asal Sanger, Sulawesi Utara tampak sibuk membuat pam boat atau kapal khas suku Sanger. Konon kapal ini sangat tangguh dan bisa mengarungi lautan hingga ke Filipina.
Di Tempat Penampungan Ikan, Anda bisa merasakan sendiri kesibukan para pelaut saat menyetor ikan hasil tangkapan mereka. Namun pastikan Anda datang di subuh hari untuk melihat aktivitas mereka

Jatiluwih, Karisma Desa Wisata di Bali



EMPAT wisatawan asing bergegas turun dari mobil Avanza, lalu menuju kubu (kandang) seekor sapi yang tengah makan rumput di satu petak sawah Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Selasa (1/2/2011).

Sistem pengairan subak dan terasering serta pupuk organik dari kotoran hewan diterapkan di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (2/2/2011).
Sistem pengairan subak dan terasering serta pupuk organik dari kotoran hewan diterapkan di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (2/2/2011).
Wisatawan asal Eropa itu bergantian foto bersama dilatarbelakangi panorama sawah berundak serta Gunung Batu Kau, selain Gunung Batur dan Gunung Agung yang samar-samar terbayang di belakang tersaput kabut sore.
Tidak lama berselang, datang beberapa minibus membawa wisatawan asal Eropa, Jepang, dan Singapura yang terdiri atas anak-anak dan dewasa. Setelah kendaraan diparkir, mereka berhamburan untuk berfoto dan melepas pandangan ke bentangan sawah berundak yang tanaman padinya baru mengeluarkan tunas.
Sawah bertingkat sebagai point of view itu berada di seberang jalan utama yang memisahkannya dengan rumah penduduk Desa Jatiluwih yang umumnya bermata pencarian sebagai petani. Petak-petaknya menghampar mengikuti kontur tanah sehingga para pelancong bisa saja nongkrong dalam kendaraan menyaksikan hamparan sawah yang bagaikan lukisan alam.

Undakan sawah, hawa sejuk dataran tinggi, serta petani yang lalu lalang membawa cangkul, sabit, dan peranti acara untuk sembahyang di pura sawah sebelum mengerjakan lahan garapan boleh jadi sebuah karisma Desa Jatiluwih, Desa Mengesti, dan beberapa desa di sekitarnya. Itulah agaknya pertimbangan areal bercocok tanam di desa-desa itu diusulkan sebagai cultural world heritage ke UNESCO.
Usulan itu bagi Nengah Wirata, Kepala Desa Jatiluwih, membawa konsekuensi, antara lain kawasan itu menjadi ”milik bersama” warga lokal dan masyarakat dunia (wisatawan). Pemilik, terlebih lagi investor, tak bebas mengalihfungsikannya. Artinya, ”Wisatawan hanya tour menikmati kawasan ini, tetapi mereka menginap di tempat lain,” ujar Made Suarya, petani dan purnawirawan TNI AD dari Dusun Wangaya Betan, Desa Mengesti.
Areal sawah di Desa Jatiluwih relatif sempit, yaitu 303 hektar (ha), dan di Desa Mengesti 160 ha. Namun, keduanya berkontribusi terhadap Kabupaten Tabanan sebagai lumbung padi Provinsi Bali.
Di pihak lain, menurut Wirata dan Suarya, sawah dan alam sekitar adalah manifestasi ajaran Hindu yang tertuang dalam Tri Hita Karana: hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam. Harmonisasi hubungan antarkomponen itu diterapkan secara turun- temurun lewat subak—sistem tata guna air—yang sarat makna solidaritas sosial, gotong royong, dan toleransi. Nilai-nilai solidaritas juga terwakili dengan keberadaan permukiman Muslim di Dusun Soko, Desa Senganan—tetangga Desa Jatiluwih.
Tercatat ada 12 keluarga (75 jiwa) yang tinggal di sana. ”Kami adalah generasi ketujuh di sini,” ujar Jamirin, pengurus Masjid Al Hamzah yang berada di sebuah dataran tinggi. Saat dibangun, warga yang beragama Hindu ikut membantu meratakan perbukitan tempat masjid itu kini berdiri.
Selama ini mereka hidup berdampingan secara damai, malah ibunda Jamirin, yaitu Siti Suwani, adalah mualaf yang berasal dari Desa Jatiluwih. Tradisi saling kunjung saat Idul Fitri dan Galungan, bahkan tradisi ngejot (mengantar makanan) ketika tiap-tiap umat merayakan hari besar keagamaan, masih berjalan hingga saat ini.
Hubungan harmonis itu berjalan turun-temurun, sebagaimana strategi menanam padi varietas lokal yang bertali-temali dengan nilai sosial dan budaya serta kearifan lokal. Salah satunya, pantang mendirikan bangunan permanen di persawahan. Sebab, dengan situasi alam terbuka di tengah sawah, bangunan sangat rawan disambar petir. Karena itu, petani hanya membangun kubu (gubuk) yang berfungsi sebagai gudang untuk menyimpan alat pertanian atau kandang ternak. Kubu dan ternak itu berperan ganda untuk menghasilkan bahan baku pupuk dan pemrosesan pupuk organik dari kotoran sapi atau kerbau.
Dengan pupuk organik itu, Suarya yang memiliki 0,30 are (30 meter persegi) sawah bisa memperoleh 2 ton gabah kering panen. Hasil itu sangat tinggi dibandingkan lahan yang ditaburi pupuk kimia dengan produksi 16 kuintal.
Tradisi agraris itu diduga berkaitan dengan mitos yang menyertai Pura Batu Kau dan pura besar lain, seperti Besakih, Lempuyang, Andakasa, dan Pura Batur di Bali. Konon, suatu masa terjadi kemarau panjang di seputar Pura Batu Kau. Rakyat pun masuk hutan mencari makanan. Di antara mereka, dalam suasana antara sadar dan tidak sadar, ditunjukkan ”pemandangan gaib”: sawah dengan tanaman padi menguning dan sebuah rumah berpenghuni seorang kakek.
Mereka diminta singgah di rumah itu, lalu sang kakek memberi mereka bibit padi gaga. Ketika benih padi diterima, sang kakek dan rumah itu menghilang seketika. Masyarakat pun melaksanakan pesan sang kakek untuk menanam bibit padi itu.
”Pesan” itu lalu dimanifestasikan dalam pola tanam para petani. Di Desa Mengesti, misalnya, petani wajib menanam varietas lokal (padi beras merah dan putih) pada musim hujan (kertamasa). Sedangkan musim kemarau (gadon/gadu) pada Juli-Agustus, petani diizinkan menanam varietas unggul IR 64 dan palawija. Pola tanam itu diperkuat awik-awik (peraturan) lewat subak masing-masing.
Konon, pernah terjadi pelanggaran tradisi bercocok tanam itu sehingga berakibat semua tanaman padi gagal panen karena diserang hama tikus dan wereng. Kalaupun tak ada gagal panen, petani juga dihadang sanksi: tak mendapat jatah air untuk sawahnya atau dibebani upacara adat di pura dengan biaya Rp 3 juta. Jatiluwih sudah mengaturnya.

Makau, Kota Bergaya Eropa di Asia


Apabila ingin mencicipi rasanya berjalan-jalan di Eropa tanpa ingin kesulitan mengurus visa ke kedutaan dan tidak ingin terlalu menguras tabungan, Anda dapat mengunjungi Makau, sebuah kota kecil bagian dari China.

Senado Square, salah satu spot favorit para turis di Macau.
Senado Square, salah satu spot favorit para turis di Macau.
Makao atau Makau adalah salah satu dari dua daerah administrasi khusus dari Republik Rakyat China, selain Hongkong. Kota Makau merupakan sebuah kota yang terkenal akan kehidupan malam dan judinya. Dapat dibilang bahwa Makau adalah sebuah Las Vegas-nya Asia karena perekonomian wilayah ini memang sangat tergantung pada kegiatan perjudian dan pariwisata kotanya.
Di balik kehidupan malamnya, Makau juga menyimpan harta karun berupa kekayaan arsitektural, tata kota, dan kuliner yang melimpah peninggalan dari pemerintahan Portugis yang menduduki Makau selama lebih dari 400 tahun, hingga diambil alih oleh pemerintah China pada tahun 1999.
Banyaknya bangunan peninggalan Portugis ini menjadikan Makau mirip dengan sebuah kota kecil di Eropa. Bagusnya, hingga saat ini bangunan-bangunan bersejarah peninggalan masa kolonial tersebut masih terawat dengan baik, bahkan menjadi salah satu daya tarik wisata bagi kota tersebut.

Kebanyakan bangunan bersejarah di Makau memiliki dua sebutan, satu dengan bahasa Inggris, satu lagi dengan bahasa Portugis.
Yang tidak ngeh pasti bingung dengan adanya dua sebutan dengan dua bahasa ini. Penanda jalan pun ditulis dengan dua bahasa, bahasa Mandarin dan bahasa Portugis. Walaupun banyak fasilitas publik yang menggunakan dua bahasa, ternyata bahasa yang digunakan warga lokal kebanyakan adalah bahasa Mandarin atau Kanton. Hanya sekitar 2 persen yang menggunakan bahasa Portugis. Tampaknya dalam hal bahasa, Portugis tidak terlalu berpengaruh di sini.
Menuju Makau
Untuk mengunjungi Makau, Anda dapat menggunakan pesawat yang langsung menuju bandara Makau atau dengan menyeberang dari Hongkong melalui feri dengan kisaran waktu satu jam. Ongkos feri bervariasi, dari 142 dollar Hongkong hingga 1.062 dollar Hongkong. Walaupun saat itu saya menggunakan feri yang kelas ekonomi, saya terkejut juga begitu masuk ke dalam kabin feri. Lantainya berkarpet, kursinya nyaman seperti kursi pesawat, dan interiornya lumayan mewah untuk ukuran saya sebagai backpacker kere. Tapi, setelah saya pikir-pikir, 142 dollar Hongkong itu, kalau dirupiahkan, sekitar Rp 170.000. Ya, pantas saja nyaman.
Peta gratis yang saya dapatkan di bandara Makau sayangnya tidak terlalu banyak membantu untuk menjelajah Makau. Gambar jalannya kurang detail dan tampaknya tidak skalatis juga. Namun, paling tidak kita akan mendapat orientasi arah yang cukup baik untuk berkeliling Makau. Maka, jangan lupa untuk mengambil peta gratis Anda begitu mendarat di bandara Makau.
Untuk mencapai penginapan yang Anda tuju, Anda dapat memilih menggunakan bus atau taksi. Perlu diingat, kebanyakan warga lokal Makau tidak mengerti bahasa Inggris. Maka, siapkan kartu nama penginapan Anda yang dilengkapi dengan bahasa lokal, yang kadang disediakan di website penginapan tersebut.
Apabila Anda tidak memiliki kartu nama penginapan Anda, gunakan “bahasa tangan” untuk menjelaskan ke pengemudi taksi, dengan kata lain: berikan peta Macau lalu tunjuk tujuan Anda.
Saya sendiri waktu itu menginap di sebuah penginapan tua yang berusia lebih dari 100 tahun di La Rue Felicidade bernama Sanva Hospedaria. Menginap di hostel ini bagaikan mengalami sendiri sebuah film China zaman dulu, tentu saja, mengingat hostel ini juga sempat beberapa kali dijadikan tempat shooting beberapa film Hongkong. Selain Sanva, ada beberapa hostel lain yang juga sering kali direkomendasikan para backpacker. Beberapa di antaranya Auguster’s Lodge dan Ko Wah Hotel.
Berkeliling Makau
Makau terbagi menjadi empat wilayah yang dinamai Makau Peninsula, Taipa, Cotai, dan Coloane. Untuk gampang mengingatnya, Makau Peninsula adalah area favorit para turis; Taipa adalah tempat bandara Makau berada; Cotai adalah daerah yang terkenal akan kasino dan nightlife-nya; dan Coloane adalah daerah di Makau yang belum dikembangkan secara total. Dapat dibilang Coloane adalah “desa”-nya Makau.
Kota ini termasuk kota yang cukup kecil hingga ada yang berpendapat bahwa kita dapat mengelilingi seluruh pelosok Makau hanya dalam waktu sehari penuh. Namun, pada praktiknya, lumayan capai juga kalau benar-benar ingin mengelilingi kota ini dalam waktu 24 jam, apalagi kota ini memiliki begitu banyak obyek menarik bagi para pencinta fotografi.
Bagi saya sendiri, Makau paling menarik apabila dieksplorasi dengan berjalan kaki karena Makau memiliki jalan-jalan kecil yang “tidak terprediksi”. Ya, ada pula yang berkata bahwa tersesat adalah bagian dari serunya mengeksplorasi Makau. Memang, sering kali kami tersesat saat mencari satu obyek. Namun, pada akhirnya malah menemukan obyek lain yang tidak kalah menarik. Kami juga sering menemukan ruang publik kecil yang lengkap dengan tempat duduknya di jalan-jalan sempit yang kami lalui, khas kota-kota kecil di Eropa yang mengedepankan kepentingan kaum pedestrian.
Saya benar-benar merasakan betapa nyamannya berjalan kaki di sini, apalagi didukung cuaca yang cukup bersahabat pada bulan Mei. Taman-taman kota yang kami singgahi terlihat amat terawat dan aktif sebagai ruang publik. Jalan-jalan lingkungan di Makau rapi dan nyaman untuk dilalui dengan paving bebatuan khas kota-kota kecil di Eropa. Bahkan, di beberapa jalan tertentu jumlah kendaraan dibatasi sehingga cukup aman bagi pejalan kaki. Selain itu, kota ini juga memiliki transportasi publik yang terbilang cukup nyaman dan mudah dicapai.
Mengelilingi Makau dengan kendaraan umum pun amat memungkinkan dan termasuk nyaman. Namun, Anda harus menyiapkan uang receh untuk naik kendaraan umum agar tidak kerepotan sendiri karena tidak ada kondektur di sini. Anda cukup memasukkan ongkos bus ke dalam sebuah kotak kecil di samping pengemudi. Tarif bus di sini dapat dilihat di penanda yang terdapat di setiap halte, flat untuk perjalanan jauh-dekat, tetapi bervariasi tergantung jurusannya.
Yang perlu dicatat, di Makau kita dapat menggunakan dollar Hongkong, tetapi tidak bisa sebaliknya. Mata uang Patacca tidak dapat digunakan di Hongkong.
Obyek wisata
Karena ini adalah kali pertama saya dan teman-teman mengunjungi Makau, Makau Peninsula adalah kawasan destinasi utama kami selama di Makau. Kunjungan singkat kami di Makau membuat kami tidak sempat mengunjungi beberapa obyek menarik yang lokasinya jauh dari hostel kami. Namun, catatan di bawah ini setidaknya akan merangkum beberapa tempat yang dapat Anda kunjungi selama berada di sana.
Salah satu tujuan utama para pelancong selama di Makau adalah Senado Square (Largo do Senado) yang lokasinya dekat dengan hostel kami. Ini adalah obyek pertama yang kami datangi begitu tiba di Makau. Senado Square adalah sebuah plaza dengan air mancur yang dikelilingi bangunan-bangunan bersejarah bergaya kolonial yang dicat kuning dengan nuansa putih-hijau. Paving bebatuan dengan pola yang unik membungkus jalan pedestrian dan menjadi ciri khas plaza ini.
Landmark lain yang terkenal dan harus difoto adalah reruntuhan Katedral St Paul (Sao Paulo), bekas sebuah gereja besar bergaya arsitektural Portugis. Saking terkenalnya, belum lengkap rasanya kalau di Makau belum berfoto di depan reruntuhan gereja ini. Serunya, ternyata mencari reruntuhan ini tidak segampang membaca peta! Berkali-kali kami tersesat dan bertanya kepada warga lokal untuk menemukan tempat ini.
Dan terakhir, kami baru menemukan fakta menarik. Ternyata lokasi Senado Square dan St Paul amat berdekatan. Wah, kami ternyata berhasil juga dibuat bingung oleh orientasi jalan-jalan di Makau, atau memang petanya saja yang membuat kami tersesat? Ini namanya pembenaran, he-he-he….

Jalan-jalan di Taman Adam dan Hawa


Yuk jalan-jalan, tak usah jauh-jauh, cukup jalan kaki dari tempat saya bekerja, kurang lebih lima sampai sepuluh menit jalan kaki akan sampai ke taman ini, tepatnya berada di dekat stasiun metro (kereta bawah tanah) Novokuznetskaya. Kalau Anda  jalan lagi ke arah Utara dari taman ini lewat jalan Fiatniskaya  anda akan sampai ke pusat pemerintahan Rusia di Moskow, Kremlin.

Inilah taman Adam dan Hawa, difoto dari arah Utara searah dengan pintu masuk ke metro Novokuznetskaya.
Inilah taman Adam dan Hawa, difoto dari arah Utara searah dengan pintu masuk ke metro Novokuznetskaya.
Jadi dari tempat saya bekerja ke pusat Kremlin hanya sekitar lima belas menit  kalau mau jalan kaki. Makanya kalau ada “apa-apa” di Kremlin segera diketahui oleh masyarakat WNI. Bahkan kalau ada upacara di Kremlin dengan adanya tembakan meriam atau kembang api langsung terlihat dari jarak tersebut.
Kembali ke taman yang sedang kita bicarakan, taman Adam dan Hawa/Eva, ya benar, nama taman itu pakai nama manusia “pertama” dalam kitab suci, ya tentunya versi Injil, karena di taman ini selain ada patung Adam dan Hawa, ya ada setannya, dalam bentuk ular. Taman Adam dan Hawa ini baru ada setelah lagi-lagi komunis bubar di Rusia. Mengapa? Ya jelas saja, bagaimanapun kisah Adam dan Hawa adalah kisah agama, kisah yang ada dalam kitab suci, baik dalam Al Qur’an maupun Injil. Nah apa pun yang berbau agama bagi rezim komunis adalah ”candu” yang bisa merusak pikiran manusia.

Nah setelah komunis hancur di Rusia, maka mulailah agama-agama di Rusia bangkit kembali, dan simbol-silmbol keagamaan bertebaran di mana-mana dan tak ada larangan. Masjid dan Gereja pun mulai dibangun kembali, yang ketika zaman komunis banyak yang fungsinya dialihkan, entah menjadi gudang, kantor, kolam renang dan lain sebagainya. Begitu juga dengan taman Adam dan Hawa ini, dulunya sebelum taman ini dibuat, memang sudah menjadi taman tempat berkumpulnya orang-orang Rusia atau WNA yang berada di Rusia ketika istirahat, makan siang. “Abed” kata orang Rusia.
Loh kok makan siangnya ke taman ini? Iya, karena di sekitar taman banyak sekali restoran, kafe, kios dan lain-lain. Dari resoran Italia sampai ke restoran China, dari masakan Arab sampai masakan Indonesia, dari jenis Saurma sampai Buger dan lain sebagainya. Loh kok banyak sekali? Iya,  karena di sepanjang jalan Fiatniskaya dari ujung Selatan perempatan di dekat metro Dobrininskaya  sampai ke ujung Utara anak sungai Moskow memang banyak sekali restoran dan kafe. Ha itu karena di sepanjang jalan ini banyak sekali perkantoran, bank dan lain-lain.
Oya , taman Adam dan Hawa ini memang diapit oleh jalan Novokunetskaya dan Fiatniskaya, persis di depan taman ini ada stasiun metro Novokuznetkaya dan tak jauh dari taman ini juga ada stasiun Tretyakovskaya dan Geleri Tretyakovskaya, galeri kebanggaan Rusia. Yang di dalamnya Anda dapat melihat lukisan-lukisan yang terawat, walau usianya ada yang sampai 300 tahun, 3 abad!  Tentang yang satu ini nanti di lain waktu ceritanya.
Sekarang kita kembali ke taman Adam dan Hawa, di taman Adam dan Hawa ini tak pernah sepi dari pengunjung, di segala musim, apa lagi di musim panas. Karena di saat musim panas air mancurnya yang tadi beku di musim dingin akan kembali berfungsi, akan kembali air mancurnya muncrat! Dan anda jangan heran bila di kolam air mancur, yang di atasnya ada patung Adam dan Hawa sedang duduk bersebelahan, yang satu menghadap ke Barat yang lainnya menghadap ke Timur, orang Rusia  mandi di sana!
Nah karena mungkin yang membuat patungnya laki-laki, maka yang “dikerjain” ya patung Hawanya, alias patung Hawa tak diberikan apa pun untuk menutup tubuhnya, selembar daunpun tidak! Ya sudah polos apa adanya. Sedangkan Adam, masih ditutupi selembar daun dibagian yang paling penting, curang ya? Kaum Hawa bisa protes tuh!
Logis memang kalau dilihat dari kisahnya Adam dan Hawa, ketika dilarang memakan buah “khuldi” namun karena tergoda oleh rayuan setan, akhirnya buah “khuldi” pun dimakan oleh Adam dan Hawa, nah pada saat itulah aurat mereka terbuka! Nah yang abadikan oleh seniman ini, saat terbuka tadi, bukan saat tertutup!
Tapi sudahlah itu urusan sang seniman, ya namanya juga seniman, manusia yang konon katanya “bebas nilai” mau apa saja boleh dan berkarya sebebas-bebasnya! Tapi ya itu tadi, giliran membuat patung yang laki-laki masih ada rasa ”malunya”, tapi giliran membuat patung perempuan seringkali malah ”diumbar”, itulah “nasib” kaumnya Hawa, yang sering kali menjadi objek “liar” para seniman, ya seniman apa saja, ya pelukis, ya pematung dan lain sebagainya.
Kisah Adam dan Hawa juga tak jauh dari cerita buah apel, nah apel pun diukutsertakan dalam taman ini. Anda dapat melihat patung apel di taman ini, nah kebetulan juga di sebelah Selatan  taman ini, ada kantornya partai apel, “yabloko” kata orang Rusia. Nah coba di negara semaju Rusia pun nama partai seperti main-main, masa nama partai dari nama buah-buahan, Partai Apel! Mungkin kalau di Indonesia yang kaya dengan buah-buahan, maka akan terlihat lucu, kalau ada partai yang memberi nama dengan nama buah-buahan, maka kita akan melihat ada Parta Duren, Partai Rambutan, Partai Duku, Partai Mangga, Partai Pete, Partai Jengkol dan lain sebagainya!
Iya, ya mengapa di Indonesia tidak pakai nama buah-buahan? Kan nama buah-buahan banyak sekali di Indonesia, malu? Loh mengapa malu? Orang Rusia aja bangga dengan buah-buahan, padahal jenis buah-buahan di Rusia bisa dihitung dengan jari! Tapi mereka bangga! Loh Indonesia mengapa tidak? Loh dari pada bawa-bawa nama partai agama, tapi anggotanya koruptor! Namanya partai agama, eh ke Moskow yang dicari perempuan “begituan!” Astagfirullah! Nah loh jadi nyerempet ke sini.
Oke kita balik lagi ke taman Adam dan Hawa, taman ini memang asyik untuk dijadikan tempat ngobrol, apa lagi di musim panas, sambil duduk-duduk di pilar-pilar panjang. Lagi-lagi anda jangan heran bila tiba-tiba ada orang jatuh, bruk! Ya apa lagi kalau bukan mabuk, nah yang mabuk akan tenang tiduran di hamparan rumput di taman Adam dan Hawa tanpa ada yang mengganggu, kecuali polisi yang akan membangunkannya! Yang lain tak punya kepetingan dan tak peduli. “Mabuk-mabuklah, tapi jangan ganggu saya,” begitu kira-kira pemikiran orang Rusia. Wah tentang pemabuk di Rusia, nanti ada kisahnya sendiri di lain waktu.
Kita lanjutkan kisah taman Adam dan Hawa ini, di tengah-tengah antara patung Adam dan Hawa ada pohon, jangan-jangan yang dimaksud pohon “khuldi” atau malahan pohon apel, kalau di lihat dari jauh berbentuk bulat, namun kalau kita dekati ternyata pohon itu penuh dengan burung! Ya, patung pohon itu selain daun adalah rangkaian burung-burung yang antara sayap yang satu dengan sayap burung yang lainya saling bertautan, yang ditengahnya ada ruangan kosong!
Wah bagaiman membuatnya tuh? Saya juga semula menduga hanya pohon saja, alias tak ada kreasi apa-apa, namun ketika saya perhatikan lebih detil, ah …. lagi-lagi saya kagum dibuatnya. Benar kata orang, “Rusia akan lebih indah dilihat dari detil setiap karyanya!”
Bagi yang tak suka seni, taman Adam dan Hawa hanya akan seperti angin lalu, ribuan kali pun mereka lewat di sana, ya begitu-begitu saja, tak ada yang istimewa! Namun bagi seniman, mereka akan berlama-lama memandang patung Adam dan Hawa ini, mereka akan menikmatinya! Apa lagi di musim panas, sering kali di sebelah taman ini yang berhadapan dengan metro Novokuznetskaya ada pertunjukan gratis dari pengamen-pengamen profesional, iya pengamen yang bukan hanya membunyikan musik, seperti pengamen cilik di kita, Indonesia, yang suka bawa “ketcrek” dan asal bunyi lalu nyanyilah mereka, juga asal ada lagunya.
Di Rusia tidak, iya mereka mengamen, tapi main musik beneran, bahkan kadang-kadang mereka membawa seperangkat alat band, lengkap, ya gitar, organ, drumb, biola dan lainsebagainya! Bahkan terkadang lagunya, lagu serius, lagu tingkat konser klasiknya Beethoven, Mozart dan lain-lain.
Lalu bagaimana kalau seperti musim dingin sekarang? Di taman Adam dan Hawa tetap ramai, karena memang tempatnya sangat strategis, dekat ke mana-mana. Bila ke tempat ini bisa naik tremway nomor 39,  kalau bus bisa naik nomor 25, kalau pakai metro, bisa naik, loh kok naik? Iya kan keretanya di bawah tanah, jadi naik di stasiun Novokunetskaya dan Treryakovskaya.
Makanya petunjuk di dalam stasiun metro tadi kalau kita mau ke atas disebutnya ke “luar kota”. Apa lagi? Oya, kalau anda suka seni, ada kios dekat taman Adam dan Hawa ini, kios khusus menjual karya seni Rusia, apa saja ada di sana, tapi memang harganya relatif lebih mahal dibandingkan kalau anda membelinya di Ismailova, di sini, Ismailova,  pilihannya lebih banyak dan para turis memang akan di bawa oleh pemandunya ke Ismailova bila ingin membeli oleh-oleh dari Rusia dengan harga relatif “miring”.
Wah sudah cukup lengkap, oya kalau anda Muslim jangan kwatir bila mau sholat, dari taman Adam dan Hawa ke arah Selatan anda bisa menjumpai Masjid History, sekitar 10 menit jalan kaki dari taman ini. Begitu juga dengan yang Kristen, bila ingin ke Gereja ada dan dekat dengan taman ini, sekitar 5 menit jalan kaki ke arah Selatan juga dari taman ini, ada Gereja baru saja selesai direnovasi. Kalau lapar, juga jangan khawatir, ada Pizza Hut,  McDonald’s dan lain sebagainya. Oke sekian dulu jalan-jalan di sekitar patung Adam dan Hawa, sampai jumpa di lain cerita

Bromo, Wisata Gunung Berapi Paling Berkesan di Dunia


Gunung berapi, mematikan sekaligus indah. Sebuah paduan yang telah menarik wisatawan untuk datang dan menjelajahinya. Lonely Planet memuat beberapa gunung berapi paling berkesan di dunia. Ternyata, Gunung Bromo di Indonesia adalah salah satu dalam daftar itu. Berikut daftar gunung berapi itu.

Wisatawan menikmati Gunung Bromo yang mengeluarkan asap sulfatara dari Penanjakan 2, Desa Ngadisari, Sukapura, Probolinggo, Rabu (24/11/2010). Gunung Bromo dinyatakan berstatus awas oleh Pusat Vulkanologi dan Mitgasi Bencana Geologi (PVMBG) sejak Selasa 23 November pukul 15.30 WIB. Wisatawan dan masyarakat dilarang beraktivitas dengan radius tiga kilometer dari Bromo.
Wisatawan menikmati Gunung Bromo yang mengeluarkan asap sulfatara dari Penanjakan 2, Desa Ngadisari, Sukapura, Probolinggo, Rabu (24/11/2010). Gunung Bromo dinyatakan berstatus awas oleh Pusat Vulkanologi dan Mitgasi Bencana Geologi (PVMBG) sejak Selasa 23 November pukul 15.30 WIB. Wisatawan dan masyarakat dilarang beraktivitas dengan radius tiga kilometer dari Bromo.
Gunung Hekla, Islandia. Selain disebut dengan nama “Gateway to Hell” atau pintu masuk ke neraka. Terakhir bererupsi tahun 2010.
Hekla berarti “hooded one” karena gunung ini ditutupi awan sehingga seolah-olah dikerudungi oleh awan. Gunung ini meletus cukup banyak yaitu setiap 10 tahun. Gunung ini sebenarnya nyaman didaki.
Tentu merasa letih mendaki gunung ini, namun akan terbayarkan bila Anda tiba di puncak gunung yang tertutup salju. Jika Anda ke gunung ini pada musim dingin, akan ada mobil salju wisata ke atas.
Gunung St. Helens, Amerika Serikat. Pada tanggal 18 Mei 1980, letusan gunung berapi ini bererupsi dan menciptakan sebuah kawah selebar 1,5 kilometer di sisi utaranya. Di sekitar gunung, terdapat sejumlah lintasan untuk hiking. Pendaki yang ingin menuju puncak harus memperoleh izin.

Gunung Pinatubo, Filipina. Setelah sekitar 600 tahun dianggap sebagai gunung mati, pada tahun 1991, Gunung Pinatubo menghasilkan salah satu guncangan vulkanik terbesar di abad ke-20. Saat itu, ia meletuskan abu batu hingga 40 kilometer ke atas langit dan menyebabkan kepala gunung itu runtuh hampir setinggi 300 kilometer.
Jalan baru yang dapat diakses oleh pejalan kaki untuk pendakian dapat dimulai dari Santa Juliana. Tempat ini juga merupakan tempat ziarah setiap tanggal 30 November, sebagai peringatan letusannya.
Gunung Paricutan, Mexico. Paricutan adalah salah satu gunung termuda di bumi. Saat Perang Dunia II, sebuah erupsi terjadi di tengah ladang jagung. Lahar mengalir hingga sekitar 20 kilometer persegi dan melanda dua desa. Sekarang, pemandangan yang tersisa dari kedua desa itu hanya menara gereja desa yang tampak menonjol keluar dari lahar yang sudah membeku.
Perjalanan menyusuri gunung dapat dilakukan dengan berjalan kaki atau dengan naik kuda untuk menuju puncak. Namun pemandangan bekas aliran lahar sangat memukau. Anda dapat berlari dan melompat di pasir gunung.
White Island, Selandia Baru. White Island telah bererupsi secara konstan selama tiga dekade terakhir. Pulau ini dapat dikunjungi dengan perahu atau helikopter dari Whakatane. Saat mendarat di Teluk Crater, Anda akan menyaksikan berbagai fitur khas gunung ini yang sangat menarik.
Stromboli, Italia. Dikenal sebagai “Mercusuar dari Mediterania” karena erupsinya yang permanen. Stromboli adalah bagian dari Kepulauan Aeolian, sebuah kepulauan dengan tujuh puncak gunung berapi yang terletak di lepas pantai utara Sisilia.
Hal yang paling mengagumkan dari pulau-pulau ini adalah Stromboli yang bererupsi teratur dengan debu, uap, dan batu. Lalu seketika itu pula lahar mengalir dan menurun ke hingga ke Laut Mediterania.
Tempat terbaik untuk melihat Stromboli adalah di atas kapal nelayan pada saat senja. Untuk menuju Kepulauan Aeolian dapat menggunakan kapal feri dari Naples dan Milazzo di Sisilia.
Soufriare Hills, Montserrat, Karibia. Soufriare Hills kembali bererupsi setelah selama 4 abad yaitu pada tahun 1995. Setelah kembali tenang selama dekade berikutnya, pada Januari 2007, gunung berapi ini meletus lagi, dan awan abu menyelimuti kedua pulau. Jika Anda ingin ke pulau itu, terdapat observatorium terbuka untuk pengunjung.
Hawaii Volcanoes National Park, Amerika Serikat. Hawaii Volcanoes National Park memiliki dua gunung berapi aktif. Di tengah pemandangan kawah dan kerucut sinder, bukit tinggi dengan bebatuan, lautan lava telah mengeras. Anda dapat membayar untuk menyaksikan aliran lava tersebut.
Rabaul, Papua Niugini. Pada tahun 1994, gunung berapi kembar di sekitar Rabaul meletus dan banyak wisatawan yang menganggap letusan tersebut terbesar di Pasifik. Letusan tersebut menghancurkan bandara dan menutupi sebagian besar kotanya dengan hujan abu yang tebal.
Letusan terakhir ini mendorong relokasi ibukota provinsi ke Kokopo. Jika ingin berkunjung ke sana, wisatawan dapat berlayar yang diadakan dua kali seminggu dari Rabaul ke Lae.
Gunung Bromo, Indonesia. Selama abad ke 20, gunung ini telah meletus sebanyak 3 kali dengan interval waktu yang teratur dengan letusan terbesar terjadi tahun 1974 dan letusan terakhir terjadi pada tahun ini, 2011.
Anda bisa menyewa kuda atau naik mobil jeep untuk melintasi lautan pasir Bromo dan menuju ke puncak Bromo. Di tengah lautan pasir Bromo terdapat pura besar dengan arsitektur khas Jawa yang diperuntukkan bagi tempat ibadah umat Hindu setempat.
( Sumber : kompas.com )

Wisata di Amsterdam Utara


Langit biru memayungi kota Amsterdam Utara. Di pekan pertama September lalu, suhu pagi hari itu begitu hangat bersahabat; 27 derajat celcius. Matahari pun tampak cerah memancarkan sinarnya, menyapu embun dingin sisa tadi malam.

Twiske menjadi "penyegar" dengan pohon-pohon besar membentuk hutan-hutan basah dikitari danau-danaunya nan jernih.
Twiske menjadi "penyegar" dengan pohon-pohon besar membentuk hutan-hutan basah dikitari danau-danaunya nan jernih.
Het Twiske masih begitu sunyi. Di Sabtu pagi yang basah itu, hanya beberapa orang terlihat asyik berjoging atau mengayuh sepeda, seperti yang tengah kami lakukan ini. Kayuhan demi kayuhan tak terasa nikmat, menembus jalan-jalan utama kota Ostzaan, lalu masuk ke batas-batas hutan Twiske melalui Fietspad(jalur sepeda) yang begitu rapi dan panjang.
“Kita beruntung, karena sudah beberapa hari ini tidak turun hujan. Dalam cuaca seperti ini, orang-orang di Amsterdam lebih suka pergi ke alam terbuka ketimbang mal,” kata Tjut, mahasiswi Indonesia yang menemani saya mengelilingi Twiske.
Sepintas, profil Twiske mirip betul dengan Kebun Raya Bogor, Jawa Barat. Buat Anda yang pernah berkunjung ke kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, profil Twiske lebih mudah terdeskripsi di benak Anda saat ini.

Ibarat paru-paru kota, keberadaan Twiske di tengah kota Amsterdam Utara, yaitu antara Zaandam dan Purmerend, menjadi kawasan “penyegar” dengan pohon-pohon besar membentuk hutan-hutan basah dikitari danau-danaunya nan jernih.
Hutan dan air, itulah Twiske. Mengitarinya dengan sepeda memang sangat menyenangkan, karena dari 650 hektare lahan ini di antaranya adalah air dan danau. Hal itu tentu memberikan peluang kepada wisatawan pesepeda untuk menikmati banyak cara berlibur lainnya di tempat ini, seperti berenang, memancing, berjemur di tepi pasir danau atau berlayar keliling danau.
Belum satu kilo mengayuh, sebuah windmill menarik perhatian kami berdua setelah 30 menit pertama mengayuh sepeda. Berada di tepi danau, bangunan khas negeri Kincir Angin ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri karena letaknya tepat di sebuah persimpangan jalan bagi pesepeda dan pejoging. Tak jauh dari situ, sebuah danau berpasir putih juga asyik dijadikan obat mujarab melepaskan lelah kami berdua.
“Di saat musim panas, di sinilah orang-orang berjemur. Ini memang bukan pantai, tapi orang-orang di sini sangat menikmatinya,” kata Tjut Dwi Septiasari, mahasiswi Indonesia yang tengah bersiap menempuh S-2 bidang pendidikan anak di Universiteit van Amsterdam (UVA).
Nyaris, sejak memasuki kawasan rekreasi alam ini, tak ada sampah terlihat di sepanjang areal kami bersepeda atau menikmati spot-spot pemberhentian di bibir hutan atau tepi danau. Tak tampak pula penjaga pantai berseragam dan bertampang seram mengawasi, karena semua tanda anjuran, larangan, atau keterangan berwisata sudah tersedia.
“Apakah mobil dilarang masuk?” tanya saya.
Tjut menggeleng. Menurutnya, jalur bermobil sudah tersedia dan memang “kurang disukai”. Di sini, jika tidak bersepeda, umumnya wisatawan memilih berjalan kaki atau berkuda. Selain itu, wisatawan yang datang bermobil dikenai biaya parkir. Tak ada petugas jaga parkir, karena parkir di sini dilakukan secara otomatis melalui mesin, yang hasilnya digunakan untuk menjaga area rekreasi.
Selama tiga jam pertama, pengunjung akan dikenakan biaya parkir € 3,50. Untuk tiket harian atau parkir lebih dari tiga jam, Anda akan dikenakan biaya € 6. Namun, khusus bagi yang ingin parkir berlangganan tahunan juga tersedia dan berlaku mulai 1 Mei 2011 hingga 1 Mei 2012 sebesar € 50. Khusus di musim dingin, yang berlaku mulai September 1 sampai 30 April mendatang, biaya parkir sebesar € 27,50.
Boleh jadi, selain alasan ingin lebih sehat, mahalnya parkir juga menjadi pertimbangan orang Amsterdam kurang menyukai cara berwisata menggunakan mobil di tempat ini. Saya pun mungkin berpikir dua kali untuk “gaya-gayaan” pakai mobil ke sini!
Banyak aturan
Keberadaan Twiske dikelola oleh Badan Rekreasi atau Dewan Rekreasi Twiske, yang merupakan kemitraan antara provinsi dan kota Amsterdam Utara, Zaandam, Purmerend, dan Oostzaan. Mulai biaya sampai pengelolaan fasilitas diatur oleh badan ini untuk mempertahankan wilayah yang mereka klaim sebagai “Taman Nasional Twiske” demi kebutuhan masyarakat akan rekreasi dan lingkungan hijau sebagai penyangga kota.
Jam berkunjung, misalnya. Area rekreasi ini hanya bisa diakses mulai pukul 6:00 sampai 23:00 malam. Membawa seekor anjing sebagai “teman seiring” ke kawasan ini juga tak luput dari aturan. Sebutlah misalnya, seekor anjing dilarang dibawa sampai ke kawasan pantai-pantai untuk berselancar. Ini memang sebuah peraturan ketat yang langsung dikeluarkan oleh provinsi Belanda Utara.
Berenang juga begitu, Anda tidak bisa sembarangan. Di semua kawasan ini, Anda diperbolehkan berenang kecuali di molenkom dan pelabuhan-pelabuhan boat. Pada bola pantai ditempatkan garis dengan catatan kedalaman garis bola melebihi 1 meter, sementara kedalaman lini belakang bola adalah sampai 1,50 meter sebagai area dilarang berenang.
“Saya suka memancing di sini, seminggu dua kali. Twiske tempat favorit saya, tentu saja. Hanya saja, jika Anda ingin memancing di sini, Anda harus sudah memiliki sebuah kartus pas yang valid,” ujar seorang pemancing tua sembari melempar kailnya dari sebuah jembatan di tepi danau.
“Mancing malam di sini dilarang. Maka, saya sepuasnya memancing sejak pagi hingga siang atau sore hari,” lanjut dia.
Ia mengatakan, jika Anda ingin memancing di Twiske, Anda harus memiliki sebuah VisPas atau lisensi yang valid. Informasi lebih lanjut mengenai hal ini dapat ditemukan diwww.sportvisseninnederland.nl.
Piknik di beberapa dataran berumput di tepi hutan dan danau pun menjadi kesukaan mereka yang senang melakukannya di tempat ini. Melakukan kegiatan barbeque atau memanggang tidak dilarang. Hanya saja, Anda harus menjaga jarak yang cukup dari tanaman.
Sebagai catatan, barbeque dilarang hanya ketika Anda di kawasan pantai berpasir atau taman-taman bermain petualangan untuk anak-anak. Anda bisa melakukan aktifitas ini di atas tanah terbuka, dan jangan pernah coba-coba meninggalkan sampahnya.
Boleh jadi, di sinilah letak suksesnya Twiske bisa tetap terjaga kelestariannya. Tak perlu penjaga berseragam dengan kumis melintang untuk membuat wisatawan patuh pada aturan, melainkan aturan main yang diperlihatkan jelas pada semua yang datang.
Tips menuju Twiske
- Dari Amsterdam Central Station dan Stasiun Zaandam, Anda bisa naik bus 92 menuju Oostzaan dan berhenti di Kolkweg (pintu masuk utama) atau di Kerkbuurt.
- Dari Kerkbuurt di Oostzaan Anda hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di Twiske. Bisa juga, Anda naik bus 93 dari Amsterdam Central Station ke stasiun bus di Purmerend dan berjalan di sepanjang sisi timur Twiske.

Purnama di Suryakencana


Tinggalkan sejenak semua hiruk-pikuk dan kemacetan kota besar. Manjakan indera lewat buaian angin, kicauan burung, dan lembutnya rerumputan. Saatnya menikmati heningnya hutan.

Jembatan kayu melintasi kawasan rawa antara Telaga Biru dan air terjun Cibeureum di kaki Gunung Gede Pangrango. Banyak bilah papan yang telah lapuk dan lepas. Minimnya biaya menghambat perbaikan menyeluruh.
Jembatan kayu melintasi kawasan rawa antara Telaga Biru dan air terjun Cibeureum di kaki Gunung Gede Pangrango. Banyak bilah papan yang telah lapuk dan lepas. Minimnya biaya menghambat perbaikan menyeluruh.
Di pintu masuknya saja, mata kita sudah dimanjakan. Hamparan rumput hijau menjadi latar depan Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang pagi itu berwarna kebiruan tanpa saputan kabut. Hangat matahari sudah lebih dulu menghapus genangan di jalan setapak yang semalam diguyur hujan.
Melewati pos pertama Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), bau hutan sudah tercium. Jalan tanah yang landai tertutup humus dan dipagari pohon-pohon tinggi yang menjulang. Kebetulan, siang itu para petugas TNGGP sibuk mencabuti tanaman jalar markisa hutan (konyal) yang tumbuh subur di ketinggian sekitar 1.500 meter dpl.
”Kami harus mencabut sampai ke akar-akarnya, tersisa sedikit saja langsung tumbuh dengan cepat. Markisa hutan ini bukan tanaman benalu, tapi dia bisa mendominasi tanaman primer,” kata Ade Bagja dari bagian Ekosistem Hutan TNGGP.

Taman nasional yang diselimuti hutan hujan tropis ini memiliki harta karun luar biasa. Ada sekitar 1.500 spesies tumbuhan di situ, juga 400 spesies paku-pakuan, 120 spesies lumut, dan sekitar 300 spesies tanaman obat. Tak sulit untuk menemukan pohon rasamala yang menjulang tinggi, kecubung yang sedang berkembang, ataupun buah rotan di sepanjang perjalanan.
Jalan setapak tanah berbatu yang landai membuat area Cibodas ini cocok menjadi tempat wisata keluarga untuk berkenalan langsung dengan hutan yang masih asli sekaligus menikmati karunia alam berupa telaga, air terjun, dan sumber serta aliran air panas. Telaga yang berada di ketinggian 1.575 meter dpl itu permukaannya kerap berubah warna bila tertimpa sinar matahari. Kadang berwarna hijau, kadang berubah menjadi kebiruan.
Telaga ini bisa menjadi tempat nyaman untuk mengusir lelah, tapi jika sedikit bersabar, tak jauh dari sini terdapat air terjun Cibeureum yang tingginya sekitar 50 meter. Belum lengkap kunjungan ke Cibodas dan sekitarnya sebelum menengok karunia alam yang indah ini. TNGGP pun memberi perhatian ekstra untuk jalur Cibodas-Telaga Biru-Cibeureum, antara lain dengan menyediakan jembatan kayu setinggi dua meter yang panjangnya beberapa ratus meter. Maksudnya memang untuk memudahkan wisatawan agar tidak melewati jalur becek dan licin di bawahnya. Namun, pemeliharaan yang minim membuat jalanan ini malah berbahaya karena banyak bagian yang sudah lapuk, bahkan menganga di sana-sini.
Pendakian
Cibeureum biasanya menjadi titik start bagi mereka yang melanjutkan pendakian ke Gunung Gede atau Pangrango, dan menjadi batas akhir bagi mereka yang sekadar ingin trekking bersama keluarga. Setelah pos Cibeureum (Panyangcangan), jalan setapak tak lagi landai. Tanjakan menanti di depan mata, semakin lama semakin terjal dan curam. Hutannya pun masih rapat. Sejumlah tanaman khas seperti kayu penaga (Schima wallichii)dan jamuju (Dacrycarpus imbricatus) bisa ditemui di sini. Burung-burung kecil hitam nan cerewet terus berkicau dengan suaranya yang khas ”crap… crap…crap…”. Kadang mereka hinggap sejenak di tengah jalan, menari genit lalu melesat kembali ke balik pepohonan.
Kandang Badak (sekitar 2.400 mdpl), pos terakhir sebelum mencapai puncak, nyaman untuk beristirahat dan bisa dijadikan tempat berkemah karena dikelilingi tanah datar yang cukup luas. Sebagian orang memilih opsi ini. Mereka berangkat ke puncak gunung pada dini hari keesokan harinya dan kemudian menunggu matahari terbit di bibir kawah. Pilihan lainnya adalah lanjut terus ke puncak dan kemudian turun menuju Alun-alun Suryakencana yang juga ”ladang” bunga edelweiss.
Apa pun pilihannya, medan yang dilalui tak mudah. Selepas Kandang Badak tanjakan semakin terjal. Kaki yang lelah berkali-kali harus kerja ekstra untuk melompati pohon yang tumbang melintang ataupun memanjat batu-batu besar yang bertumpuk alami. Warga setempat menyebutnya sebagai ”tanjakan rante”, mungkin karena bentuknya yang meliuk-liuk ke atas tanpa ujung. Jarak dari Kandang Badak ke puncak Gede/kawah tak lebih dari 500 meter, namun dibutuhkan waktu sekitar 1-2 jam untuk mencapainya.
Menjelang puncak, tak terlihat lagi pohon-pohon tinggi. Di sana-sini menyeruak rumput liar, tanaman perdu, dan lumut-lumutan. Matahari nyaris tenggelam ketika langkah menyusuri bibir kawah. Kabut telah lama turun. Kedalaman keempat kawah semiaktif itu—Kawah Lanang, Kawah Ratu, Kawah Wadon, dan Kawah Baru—tak lagi terlihat. Angin yang menderu dan udara dingin terus menemani perjalanan turun dari puncak sampai menjejak Alun-alun Suryakencana. Di bawah taburan bintang, tenda pun didirikan. Kami menyeruput cokelat panas dan menengadah ke langit. Bulan bulat penuh. Purnama yang sempurna.
Rute Gunung Putri
Adakah yang bisa menandingi kenikmatan pagi ketika hangat matahari menerpa wajah dan semerbak wangi edelweiss menyelusup, memenuhi indera penciuman? Inilah bonus indah jika bermalam di Alun-alun Suryakencana.
Bonus itu masih bertambah dengan perjalanan yang sulit dilupakan, menyusuri padang edelweiss sampai ke ujung alun- alun. Ini merupakan rute paling ringkas untuk turun gunung, yaitu melalui jalur Gunung Putri. Namun, sebaliknya, tak ada jalan landai di sini. Dari ujung Suryakencana sampai ke pos terakhir di ujung desa yang ada adalah turunan curam yang membuat lutut dan betis meregang. Soal keindahan, jalur Cibodas-Kawah memang lebih indah karena perpindahan tipikal flora sangat terasa. Apalagi, rute Cibodas-puncak Gunung Gede memiliki ikon seperti telaga, air terjun, air panas, dan tentu saja kawah.
Meski demikian, ingatan ”manis” tentang rute Gunung Putri tetap terasa ketika kaki menjejak batas desa yang dipenuhi kebun kol, bawang, dan wortel. Gemericik air sungai dan keindahan panorama berlatar jejeran gunung di kejauhan melipat seluruh kelelahan di jam-jam sebelumnya. Melewati pos terakhir, bunyi knalpot angkutan umum yang bising segera menyadarkan, liburan telah berakhir.